ASI Terhadap Jaminan Masa Tua Kita

Posted on September 27, 2010

0


** Cerita di bawah ini sesungguhnya mengingatkan diri kita, bahwa proses menyusui bukanlah mutlak hanya memberikan keuntungan bagi buah hati semata.

Wahai Ayah Bunda, mari kita simak bersama..

“…tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia” (Q.S. Ali Imran: 191)

***

Seorang lelaki tua tinggal bersama anak laki-lakinya, menantu dan cucunya yang baru berusia 4 tahun. Tangan lelaki tua itu gemetaran, matanya kabur dan jalannya tertatih-tatih.

Keluarga ini selalu makan bersama di meja, namun tangan orang tua mereka yang gemetaran membuat makan menjadi pekerjaan yang sulit baginya. Pastei (pie) menggelinding dari sendoknya jatuh ke lantai. Bila ia meraih gelas, susu tumpah membasahi taplak meja. Anak dan menantunya menjadi jengkel karena kotoran yang di akibatkannya.“kita harus berbuat sesuatu terhadap ayah,” kata si anak. “Aku sudah tidak sabar lagi melihat tumpahan susu, berisiknya kunyahan dan makanan yang jatuh ke lantai.

”Kemudian suami isteri itu menyediakan meja kecil di pojok rumah. Di meja ini ayah mereka makan seorang diri. Karena sang ayah juga memecahkan satu atau dua piring, maka makanan di meja kecil ini disajikan dalam mangkuk terbuat dari kayu.

Bila keluarga ini melihat sekilas ke arah lelaki tua itu, terkadang tampak matanya berkaca-kaca selagi ia duduk sendiri. Apabila sang kakek menjatuhkan garpu atau menumpahkan makanan, mereka menegurnya dengan keras. Sang cucu yang berumur 4 tahun diam-diam menyaksikan semua kejadian itu.

Suatu petang, sebelum makan malam, sang ayah menyaksikan anaknya bermain-main dengan potongan-potongan kayu di lantai. Dengan manis ia bertanya,”Lagi bikin apa, Nak?”

Sang anak dengan manja menjawab, “ Oh…., aku sedang membuat mangkuk kecil untuk makan Papa dan Mama bila aku sudah besar nanti.”

Anak umur 4 tahun itu tersenyum manis lalu kembali bekerja.
Kata-kata si anak menampar kedua orang tuanya sehingga mereka tak kuasa berkata-kata. Air mata mulai mengalir di pipi mereka. Meskipun keduanya tidak berbicara, tapi mereka tahu apa yang harus segera dilakukan.

Malam itu juga, sang suami memegang dengan lembut tangan ayahnya lalu membimbingnya ke meja keluarga. Sejak hari itu, lelaki tua makan lagi bersama keluarganya. Dan suami istri itu tidak pernah lagi memperdulikan garpu yang jatuh, susu yang tumpah dan taplak meja yang kotor.

***

Seringkali kita melupakan bahwa tubuh ini tidaklah selalu sekuat sebagaimana saat ini. Seringkali kita lupa apakah suatu saat nanti, di masa tua kita, apakah tubuh ini dapat berjalan tegak dan sigap. Lalu, apakah tubuh ini akan selalu kuat dalam melakukan banyak hal, minimal mengurus diri sendiri?

Membaca cerita ini teringat akan sebuah do’a yang telah diajarkan sejak kecil, “Ya Tuhan-ku, ampunilah aku dan/juga untuk kedua orang tuaku; dan kasihilah mereka semua, sebagaimana mereka telah mengasihi aku ketika kecil”

Perhatikan kalimat doá yang terakhir, “…dan kasihilah mereka semua, sebagaimana mereka telah mengasihi aku ketika kecil”

Setiap dari kita sebagai orang tua, akan mendapatkan balasan sebagaimana kita memperlakukan anak-anak kita saat mereka masih kecil.

Tuhan menunjukkan seluruh cinta dan kasih sayangNya terhadap diri kita di masa tua, sebagaimana cinta dan kasih sayang kita terhadap buah hati saat mereka kecil.

Do’a yang dipanjatkan oleh anak-anak kita, sejak mereka kecil hingga dewasa bahkan hingga saatnya kita telah kembali ke pangkuanNya.

Pada akhirnya, yang paling mendapatkan keberuntungan dari proses menyusui adalah KITA.

Wahai ayah bunda, dimulai dengan menyusui yang dilanjutkan dengan pengasuhan penuh cinta dan kasih sayang akan menjadikan anak-anak kita tumbuh dengan jiwa yang penuh cinta dan kasih sayang.

Alangkah beruntungnya diri kita sebagai orang tua, yang mengasuh dengan penuh cinta dan kasih sayang dan memberikan pendidikan sesuai tuntunanNya.

Menyusui disertai pengasuhan yang penuh cinta dan kasih adalah menyusui dengan dipenuhi tatapan cinta dan kasih sayang pada buah hati, dengan menjalin komunikasi dari hati pada buah hati. Sehingga alangkah baiknya jika ketika menyusui, bukan sekedar menyusui. Dimana ibunda sambil disibukkan dengan melakukan hal lain seperti menonton TV, mendengarkan radio, atau bahkan sibuk bermain FB dsb.

Pengasuhan yang penuh cinta adalah bukan sekedar anak dibiarkan bermain dengan fasilitas permainan seperti “playstation, dsb”. Namun dimana ibu membacakan buku dan berdialog dengan buah hati.

Masa kecil mereka akan segera berlalu dan tentunya tiap diri kita sebagai orang tua berharap bahwa suatu saat nanti anak-anak kita tercinta akan mengingat setiap tetes keringat penuh cinta dan kasih sayang kita.

Masa tua akan menjelang.. Di masa itu, sosok yang paling kita nanti kehadirannya dan kebersamaannya adalah buah hati kita.. Apa yang ayah bunda lakukan saat ini, bukanlah hal yang sia-sia..

SEMANGAT BERJUANG AYAH BUNDA.. Memberikan ASI bagi buah hati dengan penuh cinta.. Memberikan ASI dengan tatapan kasih pada buah hati kita.. Memberikan ASI dengan dialog penuh kelembutan antara kau dan dia..

Posted in: Dunia Laktasi